Saat
kita hendak bepergian alangkah tenangnya apabila kita telah membawa perbekalan yang
sesuai dengan kebutuhan medan yang akan kita jalani.Diantara sekian bekal
yang kita butuhkan, terdapat 4 Bekal Penting yang harus kita bawa kemanapun dengan medan yang seperti apapun.Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam
musnadnya dari shahabat Abdullah bin Amr radhiallahu anhu: Nabi bersabda, “ Ada
4 perkara, jika perkara itu ada pada dirimu maka jangan khawatir dengan perkara
dunia yang luput dari dirimu. 4 perkara itu adalah: 1.Jujur dalam berkata
Integrity bahasa lain dari kejujuran,iya integritas.Di dalam Nilai-nilai kemenkeu dia berada pada urutan pertama. Ada maksud tersendiri dibalik penempatan pada urutan pertama. Bukan berarti urutan berikutnya tidak penting, akan tetapi yang pertama mungkin lebih utama dan lebih diharapkan yang pertama diprioritaskan . ( Sekedar menganalisa kenapa ditempatkan pada urutan pertama).Dalam kondisi apapun dan dalam suasana apapun ini tetep harus terefleksi pada diri ini. ( meski terkadang perlu prtimbangan segala macam dan analisis resiko).Sebenarnya kalo itu bersumber dari dalam, tak diperlukan pertimbangan dan analisa macem-macem. Sudah menjadi sikap spontan ketika menghadapi segala sesuatu, tentunya dengan segala konsekuensinya juga. ( Benar-benar agak dilematis, menulis seperti ini tetapi diri ini belum bisa merefleksikan secara totalitas).Mungkin dengan mengenal lebih dekat yang namanya intuisi akan sedikit menghemat waktu dalam mengambil keputusan apakah harus ini ataukah itu. Disatu sisi juga kurang memahami bagaimana korelasi antara intuisi dan logika kita. Seharusnya bersinergi dan berkolaborasi.2.Menjaga Amanah
Artinya tidak melalaikan amanah ketika bermuamalah dengan manusia. Menjadi orang yang dapat dipercaya memerlukan proses yang panjang. Dilihat terlebih dahulu trackrecordnya seperti apa, kemudian kanan kirinya juga, terus baru bisa kita kasih predikat amanah.Jika orang telah memberikan amanah,maka haruslah dijaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.Sehingga makhluk yang berinteraksi/ bermuamalah dengannya tidak khawatir dia akan berkhianat. Hati mereka benar-benar tenang dan nyaman tatkala memberinya amanah karena dia memang sungguh-sungguh orang yang terpercaya dan bisa memilah, memisah mana yang seharusnya dan yang sebenarnya.Yang seharusnya bukan untuk khalayak ramai/ konsumsi publik , serta yang sebenarnya bukan otoritasnya/ wewenangnya/ domainnya tidak akan di tabrak.3.Akhlak yang mulia
Hendaknya seseorang memiliki akhlaq yang karimah ketika ia berinteraksi dengan orang lain maupun dengan makhluk lain.Karena itu setiap insan ketika berinteraksi/ bermuamalah dengan masyarakat, saudaranya atau orang lain maka dia senantiasa berada dalam adab yang tinggi setinggi pohon kelapa, adab yang mulia semulia logam mulia 23,5 karat dan dia menjauhi sejauh-jauhnya sikap yang buruk. Janganlah sampai kita menjadi orang yang kasar sekasar amplas ukuran 4, lisannya tidak dikonservasi. Semampunya untuk tidak mau menyakiti saudaranya dan sesamanya dengan sikapnya yang kasar, emosian, lisannya yang tajam setajam silet bukan dalam konteks just kidding tapi dalam keadaan ciyus, dengan anggota tubuhnya seperti main pukul / main fisik. Berlemah lembutlah terhadap sesama bahkan makhluk lain. Lemah lembut bukan berarti loyo atau lemes, akan tetapi sikap kita yang lemah lembut serta Kuat keteguhan dan keyakinan kita. Idealis tapi juga realistis. lemah lembut tapi tegas dan berprinsip. Fleksibel tapi tidak mudah patah. Stabil emosinya dan tidak fluktuatif.
4.Menjaga makananya
Pada dasarnya segala sesuatu adalah diperbolekan (halal) kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Makanan itu bisa dianalisis ketidakhalalnya dari segi cara memperolehnya dan dzat nya.Tidak bisa salah satu. Sifatnya saja ato dzatnya saja. Akan tetapi harus dua-duanya. Dan juga tidak kalah penting yaitu Baik/ toyib * bukan Bang Toyib lho ya,..
Halal dan Baik = Cukup. Sehat dan menyehatkan,...tidak di lazimkan untuk berlebih-lebihan,..karena akan tidak baik dan mungkin bisa menimbulkan penyakit.Makanan yang Halal dan baik akan berimbas pada kualitas sikap kita dan keabsahan amalan kita. Kualitas sikap kita selain dipengaruhi dari faktor genetis dan lingkungan juga dipengaruhi faktor makanan( mungkin).Karena jika ditarik mundur, kualitas genetis kita mungkin bisa dipengaruhi oleh kualitas makanan yang kita makan pula.Mungkin juga dapat berpengaruh terhadap ke-rohaniah-an/ kejiwaan kita. Wallahualam bissawab.

2 komentar:
nice posting
Suit suit..
Posting Komentar